Jumat, 20 Februari 2026

Setahun Edo–Farida: Gaspol Transformasi, Kota Udang Makin Caang di Tengah Mode Hemat Anggaran

 

Foto Bersama Edo-Farida



CirebonSuara - Gen Z bilang, “pressure makes diamonds.” Nah, vibes itu yang lagi kerasa di Kota Cirebon. Satu tahun duet kepemimpinan Effendi Edo dan Siti Farida Rosmawati jalanin roda pemerintahan, narasinya bukan sekadar laporan seremonial. Ini tentang gimana bertahan, ngebut, tapi tetap waras di tengah tantangan efisiensi anggaran.

Tagline “Setara Berkelanjutan” bukan cuma jadi quote manis di backdrop acara resmi. Di tahun pertama ini, konsep itu diuji langsung oleh realitas: anggaran harus lebih hemat, prioritas harus makin tajam, dan pelayanan publik gak boleh kendor. Buat sebagian daerah, efisiensi bisa jadi rem tangan. Tapi di Cirebon, justru dicoba jadi pedal gas yang lebih terkontrol.

Efisiensi Bukan Alasan Buat Kendor

Kondisi fiskal yang ketat bikin Pemkot harus muter otak. Program yang kurang berdampak langsung ke masyarakat mulai dipilah. Fokusnya digeser ke sektor-sektor krusial: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Bahasa gampangnya, yang penting-penting dulu yang dikuatin.

Strategi ini nunjukin satu hal: hemat bukan berarti stagnan. Justru dari skema efisiensi itu, ruang fiskal dibuka untuk program yang lebih terasa manfaatnya. Mulai dari perbaikan fasilitas umum, penguatan layanan kesehatan masyarakat, sampai dukungan akses pendidikan buat warga yang membutuhkan.

Gen Z mungkin bakal bilang, “ini mah budgeting versi upgrade.” Karena alih-alih potong sana-sini tanpa arah, pendekatannya lebih ke realokasi cerdas. Uang rakyat dipastikan balik lagi ke rakyat dalam bentuk layanan yang konkret.

Birokrasi Naik Level, Gak Cuma Wacana

Salah satu capaian yang cukup bikin bangga adalah predikat “Unggul” dalam Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) dari Lembaga Administrasi Negara. Buat yang belum familiar, IKK ini jadi semacam rapor buat kualitas kebijakan publik di daerah.

Predikat unggul artinya kebijakan yang dibuat gak asal jadi, tapi berbasis data, analisis, dan proses yang terukur. Ini penting banget, apalagi di era sekarang ketika publik makin kritis dan melek informasi. Salah langkah dikit, bisa viral dalam hitungan menit.

Capaian ini nunjukin kalau pembenahan birokrasi gak cuma di permukaan. Ada upaya serius buat bikin tata kelola pemerintahan lebih rapi, transparan, dan adaptif. Di tengah stigma bahwa birokrasi itu ribet dan lambat, Cirebon coba tampil beda.

Investasi Masuk, Ekonomi Ikut Ngebut

Selain urusan internal pemerintahan, sektor investasi juga jadi sorotan. Realisasi investasi yang dilaporkan melampaui target jadi sinyal positif buat iklim usaha di kota ini. Stabilitas politik dan kepastian regulasi jadi faktor yang bikin investor lebih pede masuk.

Buat anak muda Cirebon, kabar ini harusnya jadi angin segar. Investasi bukan cuma soal angka di laporan, tapi juga potensi lapangan kerja, peluang usaha baru, dan ekosistem ekonomi yang makin hidup. Kalau sektor riil bergerak, UMKM juga ikut kecipratan.

Di tengah tantangan global yang gak menentu, capaian ini jadi bukti bahwa kota kecil pun bisa kompetitif, asal strategi dan komunikasinya jelas.

Cirebon Caang dan Infrastruktur Kolaboratif

Salah satu program yang cukup ikonik adalah “Cirebon Caang”, yang fokus pada penerangan jalan umum. Lewat skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), pembangunan infrastruktur gak melulu bergantung pada APBD.

Model kolaboratif ini nunjukin kalau pembangunan bisa dikerjakan bareng-bareng. Pemerintah tetap pegang kendali, tapi sektor swasta dilibatkan untuk mempercepat realisasi. Hasilnya? Titik-titik gelap mulai berkurang, rasa aman meningkat, dan aktivitas warga di malam hari jadi lebih nyaman.

Buat kota yang terus berkembang, pencahayaan bukan cuma soal lampu nyala. Ini soal rasa aman, soal ruang publik yang hidup, dan soal identitas kota yang makin modern.

Pendidikan dan Sosial: Jangan Sampai Ada yang Tertinggal

Di sektor pendidikan, perhatian diarahkan pada akses dan pemerataan. Program bantuan pendidikan seperti Kartu Idola Pendidikan jadi salah satu bentuk intervensi supaya anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa sekolah dengan layak.

Semangat “setara” di sini terasa relevan. Karena pembangunan gak melulu soal beton dan aspal. Investasi paling mahal itu justru di sumber daya manusia. Kalau generasi mudanya kuat, kota juga bakal tahan banting dalam jangka panjang.

Layanan kesehatan juga diperkuat, terutama di level dasar. Upaya preventif dan peningkatan fasilitas jadi fokus agar masyarakat bisa mendapatkan layanan yang lebih cepat dan terjangkau.

Gaya Kepemimpinan yang Adaptif

Dalam setahun ini, gaya komunikasi kepemimpinan juga terlihat lebih adaptif. Pendekatan kolaboratif, keterbukaan terhadap kritik, dan upaya membangun narasi optimisme jadi bagian dari strategi.

Tentu, perjalanan masih panjang. Satu tahun pertama ini lebih ke fase fondasi. Masih banyak PR yang harus dibereskan, mulai dari persoalan klasik perkotaan sampai tantangan ekonomi yang dinamis. Tapi setidaknya, arah kompasnya sudah jelas.

Buat warga Cirebon, terutama generasi muda, momen ini bisa jadi refleksi bareng. Kota ini bukan cuma tempat lahir dan besar, tapi ruang masa depan yang lagi dibentuk pelan-pelan. Efisiensi anggaran mungkin jadi tantangan, tapi kalau dikelola dengan visi yang kuat, justru bisa jadi momentum transformasi.

Setahun sudah berlalu. Edo–Farida mencoba membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Dengan semangat “Setara Berkelanjutan”, Kota Udang pelan tapi pasti lagi menata diri.

Dan seperti kata anak Gen Z, “progress over perfection.” Yang penting gerak dulu, benahi sambil jalan, dan tetap dengerin suara warga. Karena pada akhirnya, kota yang keren bukan cuma yang infrastrukturnya megah, tapi yang warganya merasa dilibatkan dan diperhatikan.

Cirebon lagi berproses. Caang jalannya, kuat fondasinya, dan semoga makin setara buat semua


Kamis, 05 Februari 2026

Motor Digembok Gegara Parkir Sembarangan di Depan CSB Mall, Ini Aturan yang Perlu Kamu Tahu

 

Penindakan Parkir Liar di Atas Trotoar Jl Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon


CIREBONSUARA — Parkir sebentar tapi nyusahin orang lain? Hati-hati. Puluhan motor yang nekat parkir di trotoar depan CSB Mall Cirebon akhirnya digembok petugas. Aksi ini jadi bukti kalau parkir liar sekarang bukan cuma ditegur, tapi langsung ditertibkan.

Penertiban dilakukan oleh petugas gabungan yang fokus membersihkan trotoar dan bahu jalan dari kendaraan bermotor. Area yang seharusnya jadi hak pejalan kaki malah berubah jadi “parkiran dadakan”, bikin orang terpaksa jalan di badan jalan.

Alih-alih ditilang di tempat, motor yang melanggar langsung dirantai dan pemiliknya diminta datang untuk proses pendataan dan pembinaan. Kaget? Banyak. Kapok? Harapannya begitu.


Kenapa Parkir Liar Ditindak?

Buat yang masih mikir, “Cuma sebentar kok,” ini alasannya kenapa parkir liar nggak bisa ditoleransi:

  • Trotoar itu hak pejalan kaki, bukan motor

  • Parkir di bahu jalan bisa bikin macet dan rawan kecelakaan

  • Pejalan kaki (termasuk lansia & difabel) jadi korban utama

  • Kota jadi semrawut dan nggak ramah publik

Intinya: nyaman buat satu orang, ribet buat banyak orang.


Aturan Parkir yang Wajib Kamu Tahu

Biar nggak kena gembok dadakan, ini poin pentingnya:

  • 🚫 Dilarang parkir di trotoar

  • 🚫 Dilarang parkir di bahu jalan utama

  • 🚫 Dilarang parkir di zona rambu larangan parkir

  • ✅ Parkir hanya di lahan resmi yang disediakan

Pelanggaran parkir termasuk pelanggaran Peraturan Daerah (Perda) Ketertiban Umum.
Kalau bandel dan ngulang, pelanggar bisa kena:

  • Sanksi administratif

  • Denda hingga ratusan ribu rupiah

  • Penindakan lebih tegas ke depannya


Pesan Buat Warga

Petugas menegaskan, penertiban ini bukan buat nyari ribut, tapi ngingetin kalau ruang publik itu milik bersama. Ke depan, operasi serupa bakal terus dilakukan, apalagi di titik-titik ramai.

Jadi, sebelum parkir:
👉 lihat sekitar
👉 cek rambu
👉 pikirin orang lain

Karena parkir sembarangan itu bukan rebel, tapi egois

Jumat, 30 Januari 2026

Sambut Ramadan Hotel Neo Cirebon Luncurkan Promo Paket Munggahan

 

Paket Munggahan Hotel Neo Cirebon

Cirebonsuara, Januari 2026 – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Hotel Neo Cirebon menghadirkan promo kuliner spesial bertajuk “Paket Munggahan” yang akan berlangsung mulai 1 hingga 17 Februari 2026. Promo ini ditujukan bagi masyarakat yang ingin menikmati momen kebersamaan bersama keluarga, sahabat, maupun rekan kerja sebelum memasuki bulan puasa.


Hotel Neo Cirebon menghadirkan tiga pilihan Paket Munggahan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera tamu, yaitu Paket Kanoman, Kasepuhan, dan Paket Kacirebonan, dengan harga mulai dari IDR 80.000 hingga IDR 100.000 per orang. Ketiga paket ini dirancang untuk memberikan pengalaman bersantap yang nyaman dan menyenangkan dalam suasana Hotel Neo Cirebon.

Promo ini diharapkan dapat menjadi pilihan menarik bagi tamu yang ingin merayakan tradisi munggahan dengan sajian yang praktis dan terjangkau.

“Melalui promo Paket Munggahan ini, Hotel Neo Cirebon ingin memberikan alternatif pilihan kuliner bagi masyarakat yang ingin berkumpul dan menikmati hidangan bersama menjelang Ramadan,” ujar Rodifan Fakhri, selaku Sales Marketing Manager Hotel Neo Cirebon.

Promo Paket Munggahan ini dapat dinikmati oleh tamu hotel maupun masyarakat umum selama periode promo berlangsung. Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi, tamu dapat menghubungi 0812-9000-9985 (chat only).

Dug Dug Ramadan 2026 Hadir di Hotel Neo Cirebon, Sajikan Iftar Hangat Penuh Kebersamaan

  Paket Dug Dug Ramadhan Hotel Neo Cirebon Cirebon, Februari 2026 – Menyambut bulan suci Ramadan, Hotel Neo Cirebon kembali menghadirkan pro...